Pada era globalisasi ini, isu-isu terkait lingkungan semakin mendapat perhatian serius, terutama dalam konteks energi. Energi hijau atau energi baru terbarukan menjadi fokus utama dalam upaya menuju keberlanjutan. Namun, di tengah semangat positif untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih, muncul fenomena yang perlu dicermati yaitu isu tentang "greenflation“.
Greenflation adalah akronim dari green inflation atau inflasi hijau. Istilah ini mengacu pada kenaikan harga atau biaya akibat dari transisi energi hijau. Greenflation merupakan fenomena yang terjadi ketika biaya terkait energi hijau mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini dapat mencakup berbagai aspek, seperti investasi dalam infrastruktur energi terbarukan, biaya produksi panel surya, dan harga listrik yang berasal dari sumber energi hijau. Meskipun tujuan akhirnya adalah mendorong transisi ke sistem energi yang lebih berkelanjutan, kenaikan harga ini dapat memberikan tekanan tambahan pada perekonomian, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Peneliti Dhenny Yuartha Junifa dari INDEF seperti dilansir dari rri.co.id menyatakan bahwa greenflation atau inflasi hijau masih bukan isu besar di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh lambatnya pengembangan sumber energi baru tarbarukan di dalam negeri. Meskipun pemerintah memiliki target untuk renewable energy, Dhenny menganggap target tersebut belum terlalu ambisius, sehingga isu greenflation belum menjadi isu besar di Indonesia.
Greenflation terjadi saat transisi energi memerlukan pembiayaan besar dan beban tersebut dialihkan ke konsumen. Dhenny meyakini bahwa potensi greenflation di Indonesia akan diimbangi oleh kebijakan lain seperti subsidi BBM, meskipun mencabut subsidi BBM bukan kebijakan populis. Pemerintah akan menghadapi dilema terkait harga dalam peralihan energi secara langsung.
Kemungkinan munculnya greenflation terjadi pada barang-barang teknologi, seperti panel surya. Nantinya peningkatan permintaan untuk teknologi ramah lingkungan seperti panel surya dapat menyebabkan kenaikan biaya produksi, hal itu tentu mempengaruhi juga pada kenaikan harga panel surya.
Panel Surya merupakan bagian dari Solusi Energi Hijau
Energi hijau termasuk penggunaan panel surya, dianggap sebagai solusi untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim. Panel surya adalah teknologi yang memanfaatkan energi matahari untuk menghasilkan listrik, yang bersumber dari sumber energi terbarukan.
Berikut upaya-upaya solutif yang sanggup mengatasi greeflation pada produksi panel surya
Greenflation adalah tantangan nyata yang perlu diatasi dalam perjalanan menuju energi hijau. Di tengah upaya global untuk mengurangi dampak perubahan iklim, penting bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk menemukan solusi yang efektif. Rekomendasi panel surya, dukungan dari lembaga seperti INDEF, dan pembelajaran dari negara-negara maju seperti Prancis dapat menjadi langkah penting dalam mengelola greenflation dan mencapai tujuan energi hijau secara berkelanjutan. Dengan pendekatan holistik dan kerjasama lintas sektor, negara berkembang dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan ekonomi yang kuat.
Baca juga : Jenis Modul Panel Surya Jembo, 10 Tips hemat listrik untuk rumah tangga , Bagaimana Solar Panel Mendukung Stadion Sepak Bola yang Lebih Ramah Lingkungan dan Efisiensi Energi
|
|
![]() |
Fiber To The Home atau FTTH merupakan teknologi jaringan yang menggunakan fiber optik sebagai media penghantar data dari pusat jaringan hingga ke lokasi pelanggan. FTTH memungkinkan koneksi berbasis fiber optik digunakan sampai ke titik pengguna. Cara kerja ini membuat kapasitas pengiriman data menjadi besar dengan kecepatan yang tinggi. Karena itulah, FTTH banyak dipilih untuk mendukung kebutuhan internet cepat yang membutuhkan koneksi stabil dan kapasitas besar.
Ketika sebuah proyek mulai dirancang, urusan distribusi listrik sebenarnya sudah menjadi salah satu perhatian utama. Karena sebesar apa pun proyeknya, semuanya tetap membutuhkan pasokan listrik yang stabil agar bisa berjalan sesuai fungsi yang direncanakan.
Kabel bukan hanya sekadar media penghantar listrik, tetapi juga bagian dari sistem proteksi dan efisiensi distribusi energi.
Instalasi listrik domestik harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan daya rumah tangga sambil memastikan keselamatan dan efisiensi penggunaan listrik.
MCB atau Miniature Circuit Breaker, adalah perangkat proteksi listrik yang berfungsi untuk melindungi sirkuit listrik dari beban berlebih, hubungan singkat, dan arus lebih.
Kabel autowire memiliki tanggung jawab untuk mengalirkan listrik & data diantara berbagai sistem di dalam kendaraan, seperti sistem penerangan, sistem kelistrikan, dan sistem komunikasi.